Sabtu, 11 Juli 2015

Lirik Zay Adtak - Sandy

زي عادتك

امتى قلبي عليك نصفني.. واشتكيت ظلمك وشافني
حبي ليك قوّاك عليا.. وقد ما مقويك ضعفني

برضى باللي يجيلي منك.. نَفسي تشكي وأحامي عنك
وأنت شايف برضو جرحي.. هو أسهل حاجة عندك

زي عادتك
لسه حالك وأنت أهو مقرَّب تسيبني زي حالك لمّا خدتك
وبشهادتك
كنت ليك نِعم الحبيبة معاك مخنتش أي وعد أنا بيه وعدتك
لو سعادتك
مش هتكمل.. غير لو أنت بعدت عني اعتبرني خلاص بعدتك

متراهنش أنك تلاقي.. قلب مخلص ليك وباقي
لو تآمنه لعمر باقي.. يفدي راحتك وبعينيه

مين في مشواره ونصيبه.. لاقي حب عشان يسيبه
قوللي مين ضيَّع حبيبه.. مابتداش يندم عليه

Transliteration

amta qlby ‘lyk nsfny
washtkyk zlmk wshafny
hby lyk qwak ‘lya
wqd ma mqwyk d‘fny
brda bally jayly mnk
nfsy tshky wahamy ‘nk
want shayf brdwa jrhy
hw ashl hajh ‘ndk
zy ‘adtk lsh halk
wanta ywm qrb tsybny
zy halk lma khdtk
wbshhadtk knt lyk n‘m alhbyb

wm‘ak ma khwntsh aa w‘d ana byh w‘dtk
lw s‘adtk msh htkml ghyr lw ant b‘yd ‘ny
a‘tbrny khlas b‘dtk
ma trahnsh ank tlaqy qlb mkhls lyk wbaqy
lw tأmn ‘mr baqy yfdy rahtk wb‘ynyk
mn fy mshwarh nsybh
laqy hb ‘shan ysybh
qwly myn dy‘ hbybh
ma abtdash yndm ‘lyh
zy ‘adtk lsh halk
wanta ywm qrb tsybny

zy halk lma khdtk
wbshhadtk knt lyk n‘m alhbyb

wm‘ak ma khwntsh aa w‘d ana byh w‘dtk
lw s‘adtk msh htkml ghyr lw ant b‘yd ‘ny
a‘tbrny khlas b‘dtk

Lirik Habibie Ya Nur El Ain ~ Amr Diab

Gegara kerajingan nonton Q Academy, salah satu peserta menyanyikan lagu yang tak asing di telinga. Udah lama rasanya ga dengerin suara arabian di telingaku.

Cekidot lirik beserta artinya.

Habibie Ya Nur El Ain
by: Amr Diab

Habibi ya nour el-ain
Ya sakin khayali
Aashek bakali sneen wala ghayrak bibali
Habibi, Habibi, Habibi ya nour el-ain, aah
Habibi, Habibi, Habibi ya nour el-ain
Ya sakin khayali
Agmal aouyoun filkone ana shiftaha ...
Allah aalake allah ala sihraha
Aoyonak maaaya ...
Aoyonak kifaya ...
Tinawar layali

Habibi, Habibi, Habibi ya nour el-ain, aah
Habibi, Habibi, Habibi ya nour el-ain
Ya sakin khayali
Kalbak nadani wkal bithibini
Allah aalake allah
Tamentini
Maaak elbidaya ...
Wkoul elhikaya ...
Maaak lilnihaya
Habibi, Habibi, Habibi ya nour el-ain, aah
Habibi, Habibi, Habibi ya nour el-ain, aah
Aah ... Habibi ... Habibi ... aah

Terjemahan:

Kasihku, cahaya mataku
Engkau hidup dalam anganku
Aku memujamu bertahun-tahun
Tak ada orang lain di pikiranku

CHORUS
Kasihku, kasihku, kasihku
Cahaya mataku

Engkau hidup dalam anganku

VERSE 2 (2x)
Matamu mata terindah
Yang pernah kulihat
Tuhan bersamamu
Karena sihir matamu

Matamu menyertaiku
Matamu sudahlah cukup
Matamu menyertaiku
Matamu sudahlah cukup
Matamu menerangi malam-malamku

Back to CHORUS
Back to VERSE 1

VERSE 3 (2x)
Hatimu memanggilku dan berkata
Bahwa kau mencintaiku
Tuhan menyertaimu
Kau meyakinkanku

VERSE 4
Engkaulah awal
Dan keseluruhan cerita
Engkaulah awal
Dan keseluruhan ceria
Aku kan bersamamu hingga akhir

https://youtu.be/J9PQ1dEJi0Y

Selasa, 23 Juni 2015

Celoteh Ihsan #9

Ngabuburit (part 1)

Puasa hari keempat, tanteku yang biasa dipanggil Atuk oleh Ihsan, mengajak ke Masjid Akbar. Kebetulan sekali, aku udah bosen sama lauk di rumah yang kebetulan itu-itu aja. Lagian Ihsan juga belum pernah keluar rumah sejak datang ke Surabaya.

Singkat cerita, jam 4 teng kami dah siap berangkat. Loh, Ihsannya mana? Kami mencarinya, ke ruang tamu, kamar tidur, rumah tante. Juga gak ketemu.

"Ihsan-Ihsan!" Kami semua memanggilnya.

"Ihsan di sini, Mom." Suaranya kok terdengar dari belakang ya?

Segera kami menuju dapur, "Ihsan loh cuci tangan. Tadi habiz pegang pelmen." Celotehnya dengan santai.

Ya Allah, belum juga keluar rumah, guardian angelku sudah kaya gini, semoga pas nyampe gak bakalan rewel. Batinku.

Waktu berlalu, lima belas menit kami gunakan untuk mencari Ihsan. Setelah memakaikannya jaket, kami bertiga siap berangkat.

Tiba-tiba dia berteriak, "Bental---" kemudian dia berlari ke dalam, sambil keluar membawa botol aqua tanggung, "---ketinggalan!"

Kulirik jam dinding ternyata sudah setengah lima, tanpa membuang masa kami menuju tempat antrean angkot. Namun, lengang.

Kosong.

Tak ada satu pun yang nampak di situ. Entah, kenapa.

Masih menanti, senja mulai menunjukkan cahyanya, sepertinya sudah tak memungkinkan, walaupun guardian angelku berontak.

"Ayo balik. Udah terlalu sore."

"Mom..." Ihsan mulai menampakkan tanda-tanda rewelnya.

"Besok ya, sekarang pulang. Kelamaan angkotnya, Sayang." Dia hanya menatapku.

"Gendong ae biar, Fit," tukas tanteku.

Ihsan hanya diam selama perjalanan pulang, namun baru sampai pintu rumah masih dengan sandalnya. "Bi, besok ke Masjid Agung, ya!"

Ramadhan ke-4, 2015

Minggu, 21 Juni 2015

Celoteh Ihsan #8

Puasa, kok?
(Hari Pertama Puasa)

Ashoka sedang marah, dia tidak percaya bahwa ibunda yang dicintainya meninggal dunia. Maka melihat betapa kerasnya dia berusaha, sang Guru Acarya Canakya meluluskan keinginannya untuk keluar dari istana.

~

Itulah sepenggal drama hindi sambil makan sahur, beberapa menit kemudian Ashoka buyar dan diganti dengan drama bollywood lainnya yang melegenda.

Si kecilku masih pulas di kasur, nampak polos dan cute. Berbeda sekali jika dia sudah kembali aktif. Setelah makanku selesai, tak terasa imsak berkumandang.

"Ihsan gak puasa, Fit?" Tanteku seakan hendak membangunkannya.

"Nanti, ben bangun dewe, Ma." Asal kujawab, daripada guardian angelku dipaksa tersadar dari bunga tidurnya. Tak tega rasanya.

"Yawes, Mama subuhan dulu." Kemudian tanteku segera mengambil wudhu.

***

Jam lima lebih lima belas menit

Aku sedang bermain gadget ketika melihat Ihsan yang pulas terbangun kemudian berdiri, kepalanya mencari sesuatu atau seseorang, lalu tertumbuk padaku.

"Mom!" Dan dia terhuyung dipelukanku.

"Assalamu'alaikum. Udah bangun anaknya Mommy?" Sambil mengulurkan tangan kananku, refleks diraih Ihsan.

"Mom, Asan haus!"

"Ini, diminum air putihnya." Sambil kuulurkan secangkir.

"Emoh. Asan mau teh!"

"Bangun tidur itu lebih baik minun air putih, Sayang,"

"Ayo ke Abi." Dia mulai menggunakan akalnya untuk minum teh.

"Nanti. Minum dulu air putihnya."

"Halah... Asan gak suka lah," Nah, keluar sudah bahasa Upin-Ipinnya.

"Itu, suaranya Abi. Ayo, Mom!" Sambil berlari keluar pintu. Kalah sudah air putihnya? Belum tentu. Heeee...

"Assalamu'alaikuuuum... Ummi, Asan mau minum teh!"

"Ihsan sudah minum air putih?" Dia menggoyangkan kepalanya.

"Minum air putih dulu, baru makan ya, Nak."

"Asan puasa lah, Mi."

"O, Ihsan mau puasa? Nanti, kalo sudah makan sama minum air putih."

"Teh!"

"Minum air putih dulu, trus makan kurma. Ya?" Akhirnya aku ikutan bicara.

"Mau." Kemudian dia mengambil cangkir dari meja.

"Kok gak dihabisin?" Kebiasaan kalo minum air putih, cuma dikit.

"Udah. Nanti lagi." Nah, alasannya mulai keluar.

"Gak Mom kasih kurma loh," Baru dia menghabiskan air pitih tadi. Kemudian, setelah memakan kurma dua butir, nasi dan sayur sop kesukaannya. Hanya separuh, dia sudah menyerah.

"Kok udahan?"

"Asan udah kenyang lah." Kemudian dia belari ke dalam kamar dan mengambil truk mainannya ke ruang tamu. Kok ga ada suaranya?

Ternyata, sudah sampai di alam mimpi. 😊

Surabaya, 19062015

Kelud

Gunung-menggunung berderak
dalam aliran seismograf tercetak

Penduduk berdiam;keras
Pengungsi pergi;merana
Menetap pada mata telanjang, telinga gajah;awas
Keluar dari harta dunia demi sebuah nyawa

Pemerintah perintahkan siaga dua
penduduk berpijak, tak mengalah
Pengungsi komatkamit merapal do'a

Nowhere, 14022015

Renjana Hamba Kepada Sang Maha

Renjana bertahta pada jiwajiwa pendamba
Dalam embusan bayu surgawi menelusup poripori--tempat bernama hati
Seharusnya, aku datang kepada-Mu
Sebelum jerit tak lagi bersuara
Sebelum tangis tak lagi berair mata
Sebelum berhenti detak dentum dalam dada
Anganku melesat
Sekilat menyayat pelayat melawat mayat

Hati mengembara tanpa arah;hilang logika
Seharusnya aku datang!
Kepada-Mu
Sebelum RUH beringsut
Dari jemari kaki ke lutut
Dari paha ke perut
Dari dada ke sikut
Dari janggut ke rambut

Kuharap tengadah tapak dalam hening
mata terbuka mata hati
Senyapkan ego karena renjana menguasai tiap saat
Seharusnya aku datang kepada-Mu
Sebelum mengendarai keranda
Sebelum ditutup buku catatan alpa
Sebelum basah gundukan tanah pusara

Seharusnya Aku!!!
Datang Kepada-Mu,
Sebelum puisi tak bisa lagi berpuisi
(Pada hari itu, hanya tubuh mampu bicara jujur
Sebab, anggota tubuh adalah instrument paling jujur)

Nowhere, 16062014

Jumat, 19 Juni 2015

Obrolan Sang Buruh Tani dan Kusir Delman

(Sebuah oretan, di pagi hari)
Mentari baru setengah menyingsing, kala suasana mellow membuat hariku tak karuan. Baby boy kutinggal di kamar dalam keadaan belum sarapan; sebotol susu dan selapis roti strawberry sebagai pengganjalnya.

Kubuka korden jendela ruang tamu agar ventilasi udara terjaga. Tiba-tiba di depan rumah, terdengar riuhnya semangat para buruh tani yang berbondong menyeberang jalan, tujuan mereka jelas, mencari upah demi sesuap nasi, dan biaya sekolah sang anak, serta membayar beberapa utang yang menjerat.

Tak terlihat gurat sedih pada wajah-wajah tersebut, sesekali terdengar celetukan dengan dialek khas kota ini. Aneh, lucu, walaupun tak hanya sebulan-dua bulan aku menetap di sini. Namun, masih terdengar unik, untuk seorang yang terbiasa hidup di kota besar sedari bayi, dengan dialek tanpa nadanya.

Sebuah dokar lewat dengan lambat, membuat beberapa orang ibu dan seorang bapak---para buruh tersebut---menjadi diam, tercegat. Entah, apa yang membuat tawa mereka terhenti, dan melihat ke arah si pengendali dokar itu.

"Badhe tindak ten pasar tah, Mbah?" terdengar suara salah satu dari mereka.

"Iyo," jawab sang Kakek, sembari melecut kudanya perlahan.
Ada gurit perih di jantungku, kala melihatnya. Seandainya beliau adalah ayahku? Ah, umur yang terlalu senja untuk tetap mengais rezeki.

Kemudian, sang Ibu terlihat setengah berlari mendekati sang Kakek.

"Loh, Mbah. Panjenengan salah," ucapnya, lagi.

Lelaki yang sudah uzur tersebut terlihat bingung, nampak jelas rautnya yang tertekuk dengan alis menyatu. Laju kudanya dihentikan.

"Opo tho, maksude?"

"Njenengan niki, salah arah, Mbah. Pasar niku lewat mriko,"1 sambil ditunjukkan arah yang benar.

Penasaran akan reaksi beliau, aku masih memperhatikan mereka semua dari balik jendela yang terbuka. Ternyata Kakek tersebut hanya terkekeh sambil memukul ringan kepalanya, "Iyo, aku lali e karo dalane!"2

"Mpun Mbah, Panjenengan mantuk, nggih. Mangke malah mboten saget nyampe griyo, repot nek nyasar,"3 kata Ibu berbaju lapis kaos warna biru itu.

"Koksik, lah omahku, arahe nangendi, sing sebelah ngendi. Aku yo lali e!"4 celetuk beliau, polos.

Olala, usut punya usut -- setelah sang Ibu tadi, yang tak lain adalah tetangganya, menunjukkan jalan pulang -- ternyata beliau seorang pelupa, dahulu memang bekerja menarik dokar. Namun, beranjaknya usia, mewajibkannya untuk segera berhenti bekerja. Dan, dokar yang dibawa, adalah milik sang tetangga, kebetulan sang suami sedang terbaring tak berdaya.

Pagi ini, memang berbeda. Senyum simpul pun mulai merekah, tanpa kusadar. Secuil malu menyelinap di hati, buru-buru mengucap istighfar, menyebut Sang Ghoffar. Ternyata, menjadi bahagia itu tidaklah sukar!

Nowhere, 11 Maret 2015

Noted:
  1. Mbah ini arahnya salah. Pasar itu harusnya lewat sana.
  2. Iya, aku lupa jalannya.
  3. Sudah Mbah, pulang ya. Nanti bukannya sampai di rumah, bisa-bisa nyasar.
  4. Sebentar, arah menuju rumah Mbah, sebelah mana? Mbah lupa!